DPR Kekanak-kanakan?

Ini hanyalah sebuah tulisan. Tulisan yang menggambarkan apa yang ada di dalam pikiran. Tulisan ini dari rakyat, tapi tidak mewakili rakyat Indonesia. 

Rabu (4/3/2010), sidang paripurna mengenai kelanjutan dari Pansus Century di gelar, setelah sehari sebelumnya terjadi kericuhan di dalam ruang sidang. Dimana pimpinan sidang, Marzuki Ali (F-Demokrat) menutup sidang secara ‘arogan’ ditengah hujan interupsi para anggota dewan.

Entah apa yang ada di benak para anggota dewan, ruangan menjadi sangat ricuh karena setiap anggota menyampaikan pendapat seperti anak-anak yang tidak memiliki etika dan sopan santun. Mereka menghidupkan microfon yang ada di meja masing-masing dan celetuk “di undur saja”, “pilih C”, “hidup partai …”, “merdeka”.

Sungguh memalukan! Mereka seharusnya tidak melakukan tindakan-tindakan yang tidak perlu.

Adalagi tingkah lain dari angggota dewan, kali ini tidak sendiri namun secara beramai-ramai. Beberapa fraksi partai bernyanyi dengan gembiranya, tampang yang bahagia, seakan menyelesaikan semua masalah negara, melupakan orang-orang yang berjuang hidup atau bahkan perlahan mati kelaparan di tengah nyanyian gembira sang wakilnya.

Dari lagu nasional sampai lagu partai masing-masing mereka lantunkan. Apakah rakyat menggaji mereka untuk bernyanyi?

Siaran melalui TV nasional yang secara langsung membuat mata terbuka tentang hal-hal yang terjadi di sana. Tentang tingkah laku dan kerja seseorang yang mewakili orang banyak. Tapi ada yang berkata itu lebih baik, karen jika tidak disiarkan secara langsung, sebagian dari mereka hanya melakukan hal-hal yang lebih tidak penting: telpon-telponan, baca koran, tidur, facebookan, dsb.

  • Related posts:
  • About the Author

    Follow My Twitter @profdodo